Terastangerang.com – Bakal calon (Bacalon) Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Ananta Wahana mengunjungi tanah leluhur Suku Baduy di Desa Kenekes, Kecamatan Bojongmanik, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, Kamis (25/2/23).

Kedatangan politisi PDIP itu untuk bersilaturahmi serta mengetahui dan belajar kondisi dari kearifan lokal di Banten.

“Saya datang untuk menemui leluhur, belajar, dan izinkan saya menjadi bagian keluarga,” kata Ananta di hadapan Kepala Desa dan masyarakat adat Baduy.

Ananta menjelaskan, bahwa keinginan itu merupakan panggilan hatinya sebab separuh hidupnya sudah dihabiskan menjadi perwakilan rakyat.

Ananta mengaku jabatan wakil rakyat berkali-kali itu baru bisa memberikan manfaat di wilayah daerah pemilihan (Dapil) saja.

“Hampir 25 tahun saya menjadi perwakilan rakyat, mengabdi pada negara dan wilayah. Karena itu, saya merasa sudah menjadi bagian dari keluarga Baduy, saya mohon doa dan restu. Dan, izinkan saya menjadi 1 dari 4 perwakilan Banten yang mengisi kursi di DPD RI,” ucapnya.

Kata Ananta, kombinasi Blangkon bermotif batik Suku Baduy yang identik dengan dirinya, sebagai pernyataan nasionalis dan kecintaan kepada budaya di Banten.

Menurut Ananta, Blangkon adalah lambang pergerakan antar saudara pada jaman kolonial, yang dipakai oleh para tokoh seperti Tjokroaminoto, Soekarno, Jenderal Sudirman, Mr Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono, dan lainnya.

Sementara motif Batik Hariyang adalah ciri khas suku asli Banten, Suku Baduy.

Dalam pertemuan itu, Ananta disambut meriah oleh Jaro Pemerintah dan masyarakat adat Baduy, serta diberi hidangan kopi, keripik buatan UMKM masyarakat Baduy dan buah durian hasil panen.

Jaro Pemerintah masyarakat Baduy, Saija mengatakan, dirinya menerima niatan baik Ananta dan menyerahkan sepenuhnya kepada masyarakat Suku Baduy agar tetap tertib, aman, dan selalu menjaga kelestarian alamnya.

“Daun salam, Daun selisih, saya ucapkan salam dan terimakasih kepada Bapak Ananta Wahana,” ucap Jaro Pemerintah, Saija berpantun.

Kepala Desa Kenekes itu juga berpesan kepada Ananta agar menjadi perwakilan yang bersih dan mampu menahan hawa nafsu.

“Lamun pemimpin kudu pintar (kalua jadi pemimpin harus pintar) jangan sampai korupsi. Jangan sampai terbawa nafsu,” imbuhnya.

Pada sesi dialog terbuka, beberapa masyarakat adat Baduy menyampaikan aspirasinya. Misalnya, terkait kemajuan UMKM atau pengrajin termasuk menjaga kelestarian Desa Kenekes Suku Baduy. (rls/T1)