Terastangerang.com– Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan saat ini telah menyiapkan perangkat aplikasi yang mewajibkan seluruh orang tua calon siswa untuk melakukan upload berkas guna memproses kegiatan PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) tahun ajaran 2024/2025 bagi yang akan masuk pada sekolah negeri  jenjang SD-SMP.

Menurut salah seorang Akademisi yang juga menjadi  Peneliti dan Pemerhati Masalah Sosial, Andi Pangeran, proses PPDB SD (Sekolah Dasar) sejauh ini hampir tidak mengalami kendala. Namun,  berdasarkan kondisi yang terjadi,  sejumlah kendala justeru mulai muncul pada proses PPDB ditingkat SMP.

“Saat ini proses PPDB masih berlangsung dalam tahapan Pra PPDB, dimana orang tua diwajibkan untuk mengupload beberapa berkas yang cukup banyak.  Setelah mengupload berkas, orang tua akan mendapatkan verifikasi dari sekolah tujuan terhadap hal – hal yang diperlukan untuk tahapan PPDB,” kata Andi kepada terastangerang.com, Kamis, 6 Juni 2024.

Sambung Andi, ada beberapa hal yang dinilai kurang optimal pada proses Pra PPDB saat ini antara lain, mengupload berkas yang terlalu banyak.

“Hal ini dilakukan pada saat orang tua masuk (login) pada aplikasi diwajibkan meng-upload berkas – berkas yang sebetulnya diperlukannya nanti pada saat tahap pendaftaran di sekolah,” ujarnya.

Sebagai contoh, lanjut Andi, orang tua diminta untuk memasukkan berkas calon siswa seperti Akta Lahir, KIA dan Kartu Keluarga.

Seharusnya hal ini cukup diwakili dengan KIA dan Kartu Keluarga, karena  menurutnya, didalam KIA sudah terdapat informasi lengkap tentang NIK, Nomor Kartu Keluarga dan Nomor Akta Lahir.

“Kemudian orang tua juga diminta untuk melampirkan berkas seperti sertifikat lomba, KIP dan lainnya pada aplikasi tersebut.  Proses ini tentu akan banyak membuat beban bagi petugas verifikasi di sekolah tujuan. Maka sebaiknya hal ini dilakukan pada saat tahapan pendaftaran saja.

Toh akan sama saja,  apakah calon siswa masuk melalui jalur zonasi, afirmasi, prestasi ataupun perpindahan orang tua.  Sehingga berkas yang diperlukan sebaiknya diserahkan pada saat proses pendaftaran di tahapan jalur masing – masing dan di sekolah asal,” urainya.

Beban petugas dalam  memverifikasi berkas jadi semakin banyak. Ini disebabkan banyaknya berkas yang masuk pada aplikasi. Sehingga petugas verifikasi akan melakukan pengecekan terhadap berkas yang masuk.  Akibatnya tentu proses verifikasi akan semakin panjang dan lama.

Adanya standarisasi yang berbeda di sekolah tujuan. Misalkan, ada standarisasi di sekolah A menerapkan harus menggunakan Surat Keterangan Lulus. Sementara di sekolah B tidak menerapkan ini.  Maka akan menjadi sebuah standarisasi yang ganda terhadap penggunaan aplikasi tersebut.

“Berdasarkan beberapa kejadian diatas, maka kami mencoba memberikan saran dan masukan untuk perbaikan dalam proses PPDB di Tangsel. Yakni, dengan menambahkan fitur pada aplikasi PPDB.  Mempersiapkan opsi masuk dengan pilihan misalkan ; zonasi, afirmasi, prestasi, perpindahan orang tua dan jalur guru,” terangnya.

Selanjutnyua, menambahkan fitur yang terintegrasi dengan seluruh sekolah SMP di Tangsel. Baik sekolah negeri ataupun sekolah swasta.  Jika memungkinkan membuat pilihan 2 SMP Negeri dan 1 SMP Swasta.

“Hal ini bertujuan agar dapat lebih melihat data sesungguhnya, berapa besarnya peminatan dan jumlah siswa yang akan melanjutkan ke jenjang SMP.  Fitur pilihan SMP Negeri ataupun Swasta jika memungkinkan terkoneksi dengan jarak dari rumah dan pilihan SMP, sehingga dapat diketahui berapa jarak yang sesungguhnya dari rumah calon siswa,” ungkapnya.

Sebab, kata Andi,  pendidikan adalah hal yang wajib disediakan oleh pemerintah, ini sejalan dengan tujuan negara ini yakni Mencerdaskan Kehidupan Bangsa.

“Kita sebagai warga negara juga bekewajiban untuk membantu pemerintah dalam mencapai tujuan negara ini guna menciptakan ‘Generasi Emas 2045’ yang tangguh untuk Indonesia terdepan. Saya berharap, semoga dalam proses PPDB di Kota Tangsel menjadi lebih Baik, untuk mencapai slogan Tangsel Cerdas, Moderen, Religius,” pungkasnya. (mln)